Peribahasa : Mulutmu Harimau-mu
Saatnya Menerkam Si Pawang

BONDOWOSO – teropongtimur.co.id – Visi pemerintahan Bupati, KH. Salwa Arifin – H. Irwan Bachtiar Rahmat adalah Membawa Bondowoso MELESAT Dalam Bingkai Ahlak Mulia. Tetapi melihat kenyataan dan fakta hari ini, “bingkai ahlak yang mulai” jauh dari harapan. Seorang pejabat setingkat Sekretaris Daerah menjadi tersangka tindak pidana kasus ancaman pembunuhan, belum lagi penyataan kontroversi Sekretaris Daerah yang viral terkait virus Corona “hanya opini yang menjadi paradigma”, ditambah lagi adanya video viral Kadis bermain Tik Tok dengan seorang perempuan.

Terlepas dengan azas praduka tak bersalah, sebelum jatuh vonis di persidangan. Penetapan status tersangka kepada Sekda Bondowoso, H. Saifullah oleh Pihak Polres Bondowoso, tentunya tidak gegabah dan butuh proses panjang. Pasti Polres sudah memiliki bukti-bukti dan saksi yang cukup, sehingga menetapkan H. Saifullah sebagai tersangka kasus ancaman pembunuhan.

Walau sempat muncul opini adanya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3), saya anggap sebagai opini tanpa dasar, dan terkesan tidak menghargai kinerja Polres Bondowoso. Apalagi masih ada rumor gerakan aktivis yang akan mengawal terdakwa menjalani penyidikan di Polres, jelas suatu tindakan yang dapat dinilai publik mengintervensi pihak Kepolisian dalam menjalankan tugasnya.

Sebagai Koordinator Partai Pendukung pemerintah sekaligus pendukung H. Saifullah sebagai Sekda Bondowoso, saya sangat kecewa. Sebelum menjabat sebagai Sekda Bondowoso, H. Saifullah sempat berkunjung ke Kantor LSM Teropong dan Redaksi Teropong Timur, juga berkunjung ke ketua Partai PBB, PKPI, Partai Garuda, Berkarya dan Hanura. Dengan bahasa yang sama, H. Saifullah, memaparkan langkah-langkah kebijakan setelah menjabat menjadi Sekda Bondowoso.
Seinggat saya, H. Saifullah berjanji, akan menjaga marwah Bupati, melaksanakan seluruh perintah Bupati karena sadar bahwa sekda adalah pembantu Bupati. Lalu akan menyatukan Partai pengusung pemerintah yaitu PPP dan PDI-P yang saat itu sudah dianggap tidak harmonis, dan berjanji akan menyatukan seluruh partai di DPRD. Tidak hanya itu, H. Saifullah juga berjanji tidak akan “main proyek”, akan makan hanya dari gaji dan tunjangan. Tak hanya itu, H. Saifullah juga meminta kepada saya, untuk banyak memberikan kritik dan saran, saat nanti menjabat sebagai sekda.

Tetapi janji hanya tinggal janji, setelah dilantik menjadi Sekda Bondowoso, jangankan menyatukan partai politik, bahkan semakin memperkeruh suasana politik di Bondowoso. Membentuk Forum Bondowoso Amanah (FBA) yang tujuannya sangat tidak jelas, obral memberikan rekomendasi proyek kepada berbagai pihak. Lalu cara memimpin ASN yang arogan, bicara kasar disertai ancaman mutasi, serta sering mengeluarkan pernyataan kontroversi yang bikin gaduh.

Saya akui, sebagai Koordinator Partai pendukung pemerintah, bahwa proses penetapan H. Saifullah sebagai Sekda Bondowoso, sangat berliku dan membutuhkan waktu sampai 8 bulan untuk Bupati memutuskan pelantikan H. Saifullah. Tetapi semua itu bukan karena gesekan kepentingan politik, tetapi lebih pada kepentingan pribadi elit untuk memaksakan dan mempengaruhi keputusan Bupati.

Tetapi berkaca status tersangka dan segala kontroversi yang pernah dilakukan Sekda sekarang ini, ada pembelajaran berharga yang bisa diambil oleh pemerintahan KH. Salwa. Sesuatu yang dipaksakan akan berakhir dengan tidak baik. Memaksakan mempertahankan jabatan pejabat yang berisiko hukum, memiliki implikasi negatif, yakni pejabat yang bersangkutan akan mudah didikte oleh pihak tertentu dalam menjalankan tugasnya.

Tetapi curiga boleh saja, jangan-jangan malah pejabat yang berisiko ini yang sengaja dipertahankan agar mudah didikte. Sebab, kalau pejabat tidak mau mengakomodir kepentingan, maka ’kasus’ atau ’boroknya’ akan dibongkar. Makanya, permasalahan sekda ini bisa jadi pelajaran berharga di kemudian hari dalam memilih pejabat.

Akibat campur tangan para elit kebijakan, sebelum Bupati memutuskan, siapa yang akan dipilih dan dilantik sebagai Sekda Bondowoso, tetapi H. Saifullah sudah dapat memastikan bahwa dirinya yang akan dipilih Bupati sebagai Sekda, sampai berani melakukan tindak pidana ancaman pembunuhan kepada Kepala BKD karena dituduh menghambat pelantikannya. Sedang, berbagai sumber yang saya ajak bicara, memang BKD belum mendapatkan perintah sampai jam 22.00 WIB menjelang pelantikan Sekda, sehingga tuduhan menghambat itu tanpa dasar.

Yang menjadi pertanyaan dalam diri saya saat ini adalah :
  1. Siapa yang dapat menyakinkan dan menjamin H. Saifullah, akan dipilih dan dilantik menjadi Sekda Bondowoso, sedang Bupati belum memutuskan siapa sekda terpilih sampai pukul 20.00 WIB menjelang hari pelantikan Sekda?
  2. Mengapa, H. Saifullah berani melakukan intimidasi dan ancaman pembunuhan kepada Kepala BKD Bondowoso, sedang saat itu posisi H. Saifullah hanya sebagai peserta seleksi Sekda Bondowoso dan statusnya masih sebagai ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Situbondo?
Dan masih banyak pertanyaan lainnya, yang tentunya tidak etis saya sampaikan di publik.

Setelah H. Saifullah dilantik dan menjabat sebagai Sekda Bondowoso, saya pernah menemui beliau untuk memberikan kritik dan saran. Tetapi ada pernyataan menyakitkan, dari H. Saifullah yang tidak pernah saya lupakan. saat itu, H. Saifullah berkata,”Yang mendukung saya (H. Saifullah) bukan hanya anda (H. Nawiryanto Winarno) saja, tetapi masih banyak pendukung lainnya yang lebih berdarah-darah, mendukung saya menjadi Sekda dari pada anda”.

Pernyataan H. Saifullah tersebut, saya anggap sebagai pernyataan yang melecehkan dan merendahkan saya sebagai koordiantor lima partai non partemen yang mendukung pemerintah. Dan sejak saat itu, saya sebagai koordinator partai pendukung pemerintah, memutuskan untuk tidak lagi turut campur urusan pemerintah.

“Peribahasa bilang, Mulutmu, harimaumu”. Artinya, waspada terhadap mulut sendiri. Bila tak hati-hati, salah-salah yang keluar dari mulut justru akan mencelakai diri sendiri, “Lidahmu, adalah ularmu. Jagalah lidahmu jangan sampai mematukmu sendiri!”.

Melihat kasus yang saat ini sedang menjerat Sekda Bondowoso, H. Saifullah, yang telah ditetapkan oleh penyidik Polres Bondowoso sebagai tersangka kasus tindak pidana ancaman pembunuhan, sebenarnya akibat dari tidak menjaganya lisan. Tetapi dengan kasus ini, sekaligus dapat membuka tabir siapa-siapa dalang dan aktor intelektual di belakang H. Saifullah saat melakukan intervesi seleksi Sekda di kantor BKD saat itu.

Saya yakin, ada aktor-aktor yang dapat mempengaruhi kebijakan Bupati, yang berada dibelakang H. Saifullah saat itu. Dan H. Saifullah harus buka suara, siapa dan apa saja peran para aktor elit yang dapat mempengaruhi pembuat kebijakan. Karena rusaknya tatanan pemerintahan saat ini, karena campur tangan para elit, yang hanya memikirkan kepentingan pribadi.

Penulis : H. Nawiryanto Winarno 
Ketua Partai Hanura (Koordinator Partai 5 Partai Non Parlemen Pendukung {emerintah)
Share:

No comments:

Post a comment

LSM TEROPONG

LSM TEROPONG
SEKRETARIAT : 087846111212, 085236384228

BECOFF BONDOWOSO - Jatim

BECOFF BONDOWOSO - Jatim
BECOFF BONDOWOSO - JATIM

PENGUNJUNG

IKLAN / ADV / PROFILE

IKLAN / ADV / PROFILE
Hubungi Redaksi Teropong Timur WA / Telpon / SMS : 087846111212 dan Telpon / SMS :085236384228

Popular

Becoff Bondowoso - Jatim

Becoff Bondowoso - Jatim
Becoff Bondowoso - Jatim

Featured post

LSM, ORMAS DAN AWAK MEDIA BENTUK FORUM KOMUNIKASI

LSM DAN ORMAS Serta WARTAWAN YANG HADIR Bondowoso, www.teropongtimur.co.id Puluhan LSM dan Awak Media Bondowoso Jawa Timur mengapresi...

Blog archive

Recent Posts