Analisa Dampak Persaingan Usaha Minimarket Terhadap UKM Terkait Disahkannya Perda Bondowoso No 5 Tahun 2020
“Seperti Motor Bebek Dipaksa Bersaing Balapan Dengan Motor GP”


BONDOWOSO, teropongtimur.co.id


Ketua DPRD Bondowoso, H. Ahmad Dhafir, telah menanggapi kritik masyarakat terkait disahkannya Peraturan Daerah No 5 Tahun 2020 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Rakyat, Toko Swalayan dan Pusat Perbelanjaan. Ketua DPRD telah menjelaskan secara detail, mulai Proses penyusunan Perda, sudah sesuai dengan UU Nomor 12 Tahun 2011, melalui tahap persiapan, perencanaan, perancangan, dan pembahasan rancangan di DPRD. Dan pihak Pemerintah harus menyiapkan atau menyusun Naskah akademis terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat.

Terlepas dari disahkannya Perda 05 Tahun 2020 antara Pemerintah dan DPRD, telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Masyarakat seharusnya juga diberi hak partisipasi berdasarkan amanah UU 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Pada pasal 1 Ayat 41, Partisipasi Masyarakat adalah peran serta warga masyarakat untuk menyalurkan aspirasi, pemikiran, dan kepentingannya dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Artinya partisipasi masyarakat turut dilibatkan dalam penyusunan peraturan daerah dan kebijakan daerah yang membantu dan atau membebani masyarakat.

Peraturan perundangan yang mengatur zonasi pasar tradisional dan pasar modern berdasarkan Perpres No. 112 Tahun 2007 tentang Penataan Dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan Dan Pasar modern dan Permendag No. 53/M-DAG/ PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Pasar modern. Mengatur mengenai kemitraan mempertahankan eksistensi pasar tradisional dan untuk meminimalisir kesenjangan antara pertokoan modern dengan pedagang tradisional.

LSM Teropong menyayangkan pernyataan Bupati Bondowoso, KH Salwa Arifin, di salah satu media. Bupati mengatakan, “ketentuan jarak 50 meter tersebut untuk menjadikan pelaku toko tradisional mengikuti pola kerja toko modern. Kebiasaan Berjualan Dengan Pola Lama mau tidak mau harus ditinggalkan. Toko Tradisional Harus Mengikuti Pola Kerja Toko Modern Sebenarnya perubahan ini untuk meningkatkan ekonomi yang lebih baik. Untuk menjadikan masyarakat awam mengikuti toko modern. Sehingga tradisional ditinggalkan Toko Tradisional Harus Mengikuti Pola Kerja Toko Modern Kendati demikian, selama ini pasar maupun toko tradisional tidak ada upaya untuk peningkatan kualitas. Baik pola penjualan maupun produk yang dijual”.

Masih menurut Bupati Salwa, dengan adanya perubahan Perda, ada upaya lebih dari pelaku usaha tradisional untuk bersaing dengan toko modern. “Tradisi ya, mereka selama ini yang dijual seadanya gak ada peningkatan. Toko Tradisional harus mengikuti pola kerja toko modern. Ini sebenarnya positif. Biar ada upaya. Pemerintah tidak menghambat pelaku usaha pasar maupun toko tradisional. Melainkan justru pelaku usaha tradisional dapat berdaya”.

Menurut Ketua Umum LSM Teropong, H. Nawiryanto Winarno, SE, pernyataan Bupati tersebut sangat melukai perasaan pelaku UMKM bermodal kecil, yang dipaksa bersaing dengan toko modern bermodal besar dan didukung tehnologi internet. “Ini sama dengan menyuruh motor bebek bersaing balapan dengan Motor Gran Prix. Sesuatu yang tidak masuk akal untuk disandingkan dan dipaksa bersaing”.

“Seharusnya pemerintah juga tahu diri dan mau koreksi diri, apakah wajar jika Bondowoso dipaksa bersaing dengan kabupaten besar seperti Jember. Malang atau Surabaya. Sedangkan untuk bersaing pada Kepatuhan dan Kualitas JPT di Jatim saja, Kabupaten Bondowoso menjadi satu-satunya kabupaten Se-Jatim dengan nilai merah”.

“Memang, Permendag 53/2008 tidak mengatur konsekuensi ataupun sanksi apabila ada pelanggaran dilanggaran terkait jarak antara minimarket dengan pasar tradisional, Pelaksanaan pengawasan toko modern diserahkan kepada Bupati. Tetapi Pemerintah wajib merespon keresahan pedagang tradisional dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah guna peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat”.

“Pemaksaan persaingan tidak sehat oleh Bupati Bondowoso, akan mengakibatkan tumbuhnya kembangnya minimarket yang secara tidak langsung mengancam dan melumpuhkan pedagang tradisional. Karena itu Pemkab Bondowoso diminta memikirkan nasib pedagang kecil yang bisa saja kehilangan mata pencaharian akibat tergilas perusahaan besar”.

Pemkab Bondowoso wajib mengkaji ulang Perda 05 Tahun 2020, juga pemberian izin pendirian minimarket-minimarket tersebut. Adapun arah kebijakan “MELESAT” antara lain pemberdayaan pasar tradisional agar dapat tumbuh dan berkembang serasi, saling memerlukan, saling memperkuat, serta saling menguntungkan.

“Dalam proses penyusunan Perda, berbagai pihak menilai bahwa keterlibatan publik dan pemerintah yang terkait dirasa sangat kurang. Walaupun keterlibatan publik tidak menjadi suatu kewajiban tetapi menjadi ironi ketika suatu aturan yang tujuan dasarnya melindungi keberadaan pasar tradisional, justru tidak melibatkan peran pedagang pasar tradisional dalam perumusan suatu Perda”.

Menarik untuk dicermati bahwa semenjak Perda tersebut diluncurkan, belum mempunyai dampak positif terhadap eksistensi toko tradisional dan UMKM (Unit Mikro, Kecil, dan Menengah). Melihat fenomena yang terjadi, ekspansi minimarket di Bondowoso justru semakin tidak terkendali, dan semakin menyulitkan pedagang kecil untuk bertahan hidup

Sedang permasalahan yang dihadapi UMKM sampai sekarang ini semakin pelik dan bergelut pada masalah-masalah klasik seperti kesulitan akses terhadap permodalan, pasar, teknologi dan informasi. Kondisi yang demikian menyebabkan upaya-upaya “MELESAT” yang dilakukan Pemkab Bondowoso terlihat seakan-akan masih berjalan di tempat.

Sebenarnya, semua tergantung pada kebijakan Pemkab Bondowoso pada makro ekonomi dari sistem perekonomian. Tetapi banyak kalangan melihat, pemerintah lebih memihak pertumbuhan usaha yang dimotori oleh kelompok usaha modal besar.

LSM Teropong berharap, dari analisa awam yang jauh dari kata ilmiah dan akademis ini, Pemkab Bondowoso untuk segera meninjau kembali Perda 5 Tahun 2020, agar persaingan diantara para peritel sekarang ini bisa menjadi lebih efektif dan mampu memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Kehadiran pasar modern dengan modal besar, mampu menggerus setiap lawan termasuk toko tradisional. Eksistensi dari minimarket ini telah berdampak sangat besar bagi pedagang kelontong, kehadirannya telah membawa kesengsaraan bagi pedagang kelontong bahkan akan mematikan usaha mereka. (Tim Teropong)
Share:

No comments:

Post a comment

LSM TEROPONG

LSM TEROPONG
SEKRETARIAT : 087846111212, 085236384228

BECOFF BONDOWOSO - Jatim

BECOFF BONDOWOSO - Jatim
BECOFF BONDOWOSO - JATIM

PENGUNJUNG

IKLAN / ADV / PROFILE

IKLAN / ADV / PROFILE
Hubungi Redaksi Teropong Timur WA / Telpon / SMS : 087846111212 dan Telpon / SMS :085236384228

Popular

Becoff Bondowoso - Jatim

Becoff Bondowoso - Jatim
Becoff Bondowoso - Jatim

Featured post

LSM, ORMAS DAN AWAK MEDIA BENTUK FORUM KOMUNIKASI

LSM DAN ORMAS Serta WARTAWAN YANG HADIR Bondowoso, www.teropongtimur.co.id Puluhan LSM dan Awak Media Bondowoso Jawa Timur mengapresi...

Blog archive

Recent Posts