Klarifikasi PDAM Bondowoso Terkait Pemberitaan Media Online, Sekaligus Penjelasan Staf Ahli Pemda Menganai Tarif, HPP, dan Laba

BONDOWOSO – teropongtimur.co.id
– Direktur PDAM Bondowoso,  April Ariesta Birawa, mengundang Staf Ahli Bupati, Asisten II, Plt Kadis Kominfo, Kabag Humas Pemkab, LSM, media online dan beberapa aktifis, pada hari Rabu, 24 Maret 2021, pukul 09.00 WIB, bertempat di Aula PDAM Bondowoso, dengan acara memberikan penjelasan dan klarifikasi atas pemberitaan beberapa media online, serta menjelaskan mengenai penetapan tarif air, Harga Pokok Produksi (HPP) dan Laba PDAM.

April Ariesta Birawa, menjelaskan bahwa pernyataan Bupati Bondowoso, KH, Salwa Arifin, tanggal 10 Maret 2021 lalu, sebenarnya sudah sangat jelas jika diikuti dari awal sambutan. Dalam rekaman vidoe secara utuh, Bupati menceritakan saat masih menjabat sebagai wakil Bupati 2003 lalu, dalam video tersebut Bupati KH. Salwa Arifin menyatakan, “Sejak saya menjabat Wabup tahun 2003, enggak ada ceritanya laporan PDAM (saat itu) berprestasi, adanya rugi, kemalingan (sambil tertawa)”.

Menurut April Ariesta Birawa, penjelasan Bupati tersebut adalah menjelaskan keadaan PDAM Bondowoso tahun 2003 lalu saat beliau masih menjabat Wakil Bupati, bukan menjelaskan kondisi PDAM Bondowoso saat ini, jelasnya. 

Hal tersebut dibenarkan oleh Staf Ahli Bupati, Drs. Agung Trihandono, SH., MM., “Kebetulan waktu kunjungan Bupati ke PDAM, saya sebagai perwakilan dari Pemda Bondowoso turut mendampingi Bupati. Jadi saya berkewajiban menjelaskan kepada teman-teman wartawan, bahwa pernyataan Bapak Bupati, secara keseluruhan tidak seperti itu. Bapak Bupati cerita tentang dulu, saat beliau masih jadi wakil Bupati 2003”.

“Kunjungan Bupati tersebut, intinya bahwa, arahan Bupati menyangkut posisi PDAM sebagai lembaga BUMD Pemda yang berbisnis, dan yang kedua PDAM sebagai lembaga sosial yang turut bertanggungjawab terhadap penyelesaian persoalan-persoalan belum tuntas di masyarakat”, jelas Agung Trihandono.

“Permasalahan angka 64 % itu seperti di utarakan Bupati adalah, cakupan air bersih seluruh Bondowoso. Artinya, masyarakat Bondowoso belum seluruhnya dapat menikmati air bersih sepanjang tahun. Jadi pada musim-musin tertentu, masih ada bagian masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih yang layak konsumsi. Sehingga harapan Bupati, dengan data-data seperti itu PDAM terus menerus melakukan ekspansi untuk penambahan konsumen dan menambah jaringan baru”.

Terkait dengan data-data yang disajikan oleh LSM Teropong kepada PDAM, lanjut Agung Trihandono, dapat saya jelaskan sebenarnya dari sisi casflow, mulai dari tahun 2014 sampai 2020, PDAM Bondowoso sudah mengalami keuntungan. Tetapi dalam beberapa kebijakan, PDAM tidak bisa lepas dari izin Pemda, karena posisi PDAM masih belum mandiri. Artinya PDAM masih mendapatkan subsidi dari pemerintah, oleh karena itu PDAM dalam penetapan tarif masih harus mengikuti kebijakan pemerintah.

Terkait kebocoran air di PDAM, Agung Trihandono, menginventarisir adanya permasalahan kebocoran pipa, usia pipa yang sudah tua dan sebagainya. Produksi air PDAM Bondowoso mencapai ±3,7 juta/m3, sedang yang terjual sekitar ±3,1 juta meter kubik. Sehingga pemkab meminta kepada PDAM, ada target dalam upaya menekan kebocoran air. Karena saya mengganggap, kebocoran tersebut dapat menjadi tambahan laba untuk PDAM.

Terkait laba PDAM Bondowoso, Agung Trihandono, menjelaskan bahwa klasifikasi tarif PDAM ada kelompok I, II dan III. Di kelompok I dibagi lagi tarif sosial I, II dan Rumah tangga miskin (R1). Permasalahnya, sekitar 94 % pelanggan PDAM Bondowoso masih dikenakan tarif R1.

Tentang perbedaan signifikan tarif PDAM Bondowoso dan Situbondo, Terang Agung Trihandono, dipengaruhi oleh topografi dan bentang jarak kerumunan masyarakat yang dilayani. Yang jelas, pemerintah juga mengharapkan masyarakat dapat terlayani air bersih dengan harga terjangkau dan tidak memberatkan, tetapi PDAM sebagai BUMD juga tidak merugi.

Sehingga permasalahan ini, menarik untuk didiskusikan dan butuh pemikiran bersama, dan PDAM dapat menginvetarisir lagi pelanggan-pelanggan golongan tarif R1, yang saat ini mungkin sudah berubah status ekonominya, untuk minimal masuk pada tarif Break Even point (BEP), sehingga PDAM dapat secepatnya untuk bisa mandiri. Jika pelanggan yang mampu tetap dikenakan tarif R1, PDAM akan sulit untuk mandiri.

Dari pemaparan Staf Ahli Pemkab Bondowoso, Drs. Agung Trinandono, SH., MM, analisa sementara dari LSM Teropong atas potensi laba yang hilang karena kebocoran air bersih PDAM Bondowoso adalah, ±600.000/m3 (kebocoran air bersih) x Rp. 5.563 (tarif/M3) = ± Rp3.337.800.000. “Potensi laba PDAM Bondowoso yang hilang karena faktor kebocoran sangat besar, sehingga PDAM dan Pemda Bondowoso harus secepatnya mencari solusi pemecahan permasalahn ini”, kata Ketua LSM Teropong, H. Nawiryanto Winarno. (*)
Share:

No comments:

Post a comment

LSM TEROPONG

LSM TEROPONG
SEKRETARIAT : 082264680777

BECOFF BONDOWOSO - Jatim

BECOFF BONDOWOSO - Jatim
BECOFF BONDOWOSO - JATIM

PENGUNJUNG

IKLAN / ADV / PROFILE

IKLAN / ADV / PROFILE
Hubungi Redaksi Teropong Timur WA / Telpon / SMS : 082264680777

Popular

Becoff Bondowoso - Jatim

Becoff Bondowoso - Jatim
Becoff Bondowoso - Jatim

Featured post

LSM, ORMAS DAN AWAK MEDIA BENTUK FORUM KOMUNIKASI

LSM DAN ORMAS Serta WARTAWAN YANG HADIR Bondowoso, www.teropongtimur.co.id Puluhan LSM dan Awak Media Bondowoso Jawa Timur mengapresi...

Blog archive

Recent Posts