Kasus Jual Beli Tahun 2013 Di Ungkap Kembali, Setelah H. Nawiryanto Mengungkap Dugaan Terkait Air Bersih Senilai 3 Milyar Di Kab. Bondowoso



Bondowoso,www.teropongtimurnews.co.id.


Pernyataan tersebut di sampaikan oleh Haji Nawiryanto Winarno pada Tim Media TIN ( Minggu, 04 Juli 2021 ) dan menjelaskan dengan Gamblang tentang Kasus Dirinya yang saat ini di jadikan sebagai Tersangka dalam Kasus Transaksi Jual beli Tebu, di katakan secara terbuka bahwa dirinya di ancam oleh Oknum Kejaksaan Negeri Bondowoso karena kasus yang di tangani oleh pihak Kejaksaan negeri Bondowoso di ungkap di dalam Group WA Bondowoso yaitu masalah Air Bersih berupa surat panggilan pada seorang oknum Pejabat tentang Proyek Air Bersih senilai Rp 3 Milliar, Kasus PDAM dan Kasus PT BOGEM.

Karena hal tersebut, Haji Nawiryanto saat itu di panggil oleh salah satu oknun Pejabat Kejaksaan Negeri Bondowoso dengan langsung mengatakan bahwa Kasus dirinya masalah Tebu yang bertransaksi tahun 2013 kemudian di laporkan oleh Yanto warga Situbondo pada Tahun 2017 akan di lanjutkan, walaupun pada dasarnya saat tahun 2018 lalu oleh Salah satu Pejabat Kejaksaan Negeri Bondowoso, dalam hal ini Bapak Arif telah di nyatakan bahwa kasus ini tidak bisa di lanjut karena kekurangan Bukti untuk bisa melanjutkan masalah tersebut, akan tetapi oleh pihak Kejaksaan Negeri Bondowoso saat ini justru di lanjutkan dengan mengatakan bahwa Kasus Dirinya sudah sangat lengkap dalam bukti dan saksi.

Berdasar pada keresahan dirinya ( Haji Nawir – Red ) serta harapannya pada langkah hukum yang benar maka dirinya menugaskan Seluruh Pengurus Lembaga Swadaya Masyarakat Teropong yang di pimpinnya untuk mengadukan ke Kapolda Jatim tentang langkah yang di ambil oleh Pihak Penyidik Polres Bondowoso dan Kejaksaan Negeri Bondowoso dalam mengatasi Kasus yang di alaminya.

Dikutip dari salah satu item laporan Lembaga Swadaya Masyarakat Teropong yang di tandatangani oleh sejumlah Aktivis LSM Teropong dan Awak Media Teropong Timur News yang di Kapolda Jatim dengan tembusan ke Presiden, Kapolri, Kejaksaan Agung , Kompolnas, Kejati dan juga kapolres Bondowoso serta Kejaksaan Negeri Bondowoso merupakan support untuk penegakan Supremasi Hukum yang selama ini di duga mencoreng penegakan hukum di wilayah hukum Kabupaten Bondowoso Propinsi Jawa timur.

Hasil konfirmasi Tim Media TIN dengan Haji Nawiryanto ( Minggu, 04 Juli 2021 ) juga menyebutkan bahwa Kasusnya tersebut sebenarnya sangat di sayangkan kalau di lanjut sebab dalam pernyataannya bahwa kasus yang di alaminya tidak menemukan dasar yang kuat, yaitu masalah Tonase Tebu yang di hasilkan dari penebangan Yanto di lahan yang sudah di adakan MoU dengannya, selain itu yang sangat utama adalah masalah Nota Timbang Tebu atau SPAT ( Surat Perintah Angkut Tebu – Red ) yang selalu di minta olehnya pada Yanto ( Pelapor – Red ) tidak pernah di dapatkan agar tahu jumlah tonase dan Rupiah yang di dapatkan, selain itu awalnya Yanto sendiri yang menentukan jumlah Kwintal Tebu pada saat Perjanjian awal karena Yanto tidak menginginkan Tebu tersebut mengalami Kebakaran karena di takutkan mengalami kerugian, sehingga permintaan Yanto tersebut di turuti oleh Haji Nawiryanto, Nah dari Hal itu Haji Nawir merasa gerah dan merasa teraniaya sebab dasar dari Pihak Kepolisian Resort Bondowoso sepertinya hanya di rekayasa dengan langsung menentukan bahwa kerugian Yanto sebesar Rp 500 Juta, padahal dirinya tidak pernah mendapatkan dan tidak pernah mengetahui tentang Jumlah Yang seharusnya di terima yang tertera dalam Nota Timbang atau SPAT, apalagi untuk bisa menentukan Rupiah yang hasilnya juga di dapat dari Nota Timbang atau SPAT tersebut.

Lebih jauh lagi Haji Nawiryanto juga semakin gerah karena di paksa oleh pihak Kejaksaan untuk membayar Keuangan sebesar Rp 500 Juta pada Yanto, kalau tidak maka akan di lanuutkan semua permasalahannya, kemudian di katakan lagi bahwa ada satu pernyataan dari salah satu Kuasa Hukumnya saat berbicara dengan dirinya bahwa dirinya ( Haji Nawiryanto – Red ) " Tidak akan di tahan kalau dirinya bisa mengeluarkan keuangan sebagai persyaratan penangguhan penahanan sebesar 150 juta ,dan juga membayar kepada Yanto dengan sistem mengangsur sebesar 100 juta "

Dari hal tersebut maka di tetapkanlah niatnya untuk mengadu pada Kapolda Jatim dengan tembusan pada Presiden RI, Kejagung, Menhumham, Kapolri, Kejati dan Kapolres Bondowoso serta Kejaksaan Negeri Bondowoso atas dasar kekecewaannya pada Aparatur Negara yang di duga telah menganiaya haknya sebagai Warga Negara Indonesia karena kasus yang di tuduhkannya adalah tanpa dasar yang sangat kuat..

Selain itu Memang bukan rahasia lagi, berbagai banyak media memberitakan kasus transaksi jual beli tebu tahun 2013 yang baru di laporkan oleh Yanto warga Situbondo tahun 2017 di Polres Bondowoso, kemudian di nyatakan lengkap oleh JPU Kejaksaan Negeri Bondowoso tanggal 8 Maret 2021 dengan Sangkaan Pasal 378 sub pasal 372 KUHP akibat dari peristiwa tidak sesuainya transaksi jual-beli tebu dengan nilai kerugian Yanto sebesar 500 juta.

Di kutip dari berbagai pemberitaan yang beredar juga tentang kuasa hukum Haji Nawir Edy Firman, SH, MH yang menyebutkan bahwa Penyidik Polres Bondowoso di duga kuat mengabaikan hak konstitusi terlapor yang di jadikan tersangka saat ini, dasar tuduhan pasal 378 sub 372 KUHP, yang kemudian terlapor menanyakan bukti nota timbang tebu dari pabrik gula atas hasil lahan tebu yang di jual ke pelapor untuk dasar kebenaran 500 juta di abaikan, Penyidik hanya mengindahkan keterangan pelapor saja yaitu 500 juta.

Menurutnya lagi bahwa hal ini sangat Aneh bin Ajaib sebab pada saat sebelum di laporkan ,pada tahun 2015 dan 2016 sudah terjadi missed Comunication internal jual beli tersebut,Yanto dan Lutinus sering menagih dan di bayar oleh Haji Nawir ( Kalau di nyatakan sebagian juga bisa, akan tetapi ada beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan yang sampai dengan saat ini maaih belum terselesaikan – Red ) bahkan jaminan mobil dan sertifikat karena ada tuduhan pembeli rugi 500 juta, penjual tetap beretika baik dengan mengeluarkan keuangan akan tetapi terus menanyakan tentang nota timbang tebu atas lahan yang di tebang oleh pembeli ( Yanto -Red ) akan tetapi selalu di janjikan dan ternyata tidak ada sama sekali nota timbang tebu lahan Haji Nawiryanto Winarno dari Pabrik gula yang di jual ke pabrik oleh pembeli tersebut, padahal pada saat Tebang juga Sudah Di tebang oleh orang – orang atau penebang yang di bawa Yanto sendiri, juga Truck dari Tim Yanto, kemudian setelah di tebang juga tidak ada laporan tentang jumlah hasil tebangan dari PG yang di tuju.

Dari peristiwa dan bukti bukti tahun 2013, 2015 dan 2016 pada saat laporan polisi 2017 oleh penyidik hak mutlak yang di lindungi oleh konstitusi bukti bukti terlapor di abaikan, bahkan bukti nota timbang tebu yang di janjikan oleh pelapor ternyata tidak ada sampai dengan saat ini, dasar untuk penyidikan polisi hanya menuduh 500 juta itu menurutnya atas dasar apa ? Padahal transaksi dengan dirinya adalah jumlah penjualan 30 ribu kwintal tebu yang di taksir dari awal pertemuan dan berdasarkan kemufakatan bersama, dan untuk bisa menentukan bahwa jumlah keuangan akan terbukti dengan adanya Nota Timbang atau SPAT yang di peroleh dari PG Yang di tuju, kemudian bisa di tentukan jumlah tebu yang di dapat atau di timbang saat itu dan bisa menentukan juga jumlah keuangan yang di terima, bukan langsung menentukan kerugian Rp 500 juta, selain itu bukti – bukti pembayaran sebagai bentuk etika Haji Nawiryanto itu juga di abaikan oleh penyidik ( Saat ini juga terlampir semuanya dalam surat laporan ke Kapolda Jatim – Red ).

Modus modus menjadikan tersangka terlalu lama jelas melanggar Hak Asasi manusia, dengan bukti laporan resmi Lembaga Swadaya Masyarakat Teropong ada item yang intinya jual beli perkara hukum di lembaga hukum Kabupaten Bondowoso jelas mencoreng Supremasi hukum, tentunya timbul presepsi negatif dari masyarakat ,polisi adalah pengayom Masyarakat tentunya melayani dengan Humanis sehingga hukum menjadi murni dan alami bagi yang melanggar hukum, bukan di gerakkan oleh para oknum yang pada akhirnya justru meresahkan Masyarakat, Haji Nawiryanto merasa teraniaya.

Sampai berita ini di tulis dan di unggah, Haji Nawiryanto akan selalu meminta haknya sebagai warga negara untuk di perhatikan, bukan di aniaya oleh oknum yang tidak menyertakan Kewajibannya sebagai penegak hukum yang hanya bisa menekan warga demi kepentingan dirinya sendiri. Redaksi

Share:

No comments:

Post a Comment

LSM TEROPONG

LSM TEROPONG
SEKRETARIAT : 082264680777

PENGUNJUNG

IKLAN / ADV / PROFILE

IKLAN / ADV / PROFILE
Hubungi Redaksi Teropong Timur WA / Telpon / SMS : 082264680777

Popular

Featured post

LSM, ORMAS DAN AWAK MEDIA BENTUK FORUM KOMUNIKASI

LSM DAN ORMAS Serta WARTAWAN YANG HADIR Bondowoso, www.teropongtimur.co.id Puluhan LSM dan Awak Media Bondowoso Jawa Timur mengapresi...

Blog Archive

Recent Posts