Kegiatan Aksi Unjuk Rasa Damai Penolakan pembangunan Terminal LNG di wilayah kawasan Mangrove Muntig Siokan Wilayah Denpasar Selatan



Denpasar, www.teropongtimur.co.id

Aksi unjuk rasa di laksanakan oleh warga Desa Adat Intaran Sanur terkait pembanguan LNG. Di pimpin oleh Bendesa Adat Intaran I Gusti Alit Kencana serta di hadiri Para Toga, Tomas, Todat dan masyarakat Desa Adat Intaran yang diikuti sekitar ± 1000 peserta.


Hadir dalam aksi tersebut Bendesa Adat Intaran (I Gusti Alit Kencana). I Wayan Suwardana Alias Gendo (Aktivis Pemerhati Lingkungan dan Ketua Komite Kerja Advolasi Lingkungan Hidup Kekal Bali, Ketua Frontier Bali. Para Toga, Tomas, Todat dan Masyarakat Desa Adat Intaran.


Dengan  Unit mobil Komando Pecalang Intaran lengkap dengan Pengeras Suara

1 Buah Ogoh Ogoh lengkap dengan Bele Ganjur. Baliho/Spanduk yang bertuliskan, 

"Kami menolak revisi RTRW yang Mengakomodir pembangunan terminal LNG di Kawasan Mangrove"

Juga Bendera STT masing masing banjar.

Pamflet yang bertuliskan :

a) "Jangan Rusak Alam Kami"

b) " Pembangunan LNG berpotensi" mengancam tempat suci di Desa Intaran Sanur.

c) " Selamatkan Terumbu karang Pesisir sanur dari ancamam pengerukan untuk terminal LNG"

d) "Jangan Rusak Mangrove hanya proyek pembangunan terminal LNG"

e) "Luasan Kawasan Mangrove semakin berkurang kok malah ditebang lagi untuk terminal LNG"

f) "Katanya terminal LNG untuk kelastarian Alam kok mau membabat hutan mangrove"

g) "Tolak terminal LNG yang merusak Laut dan mangrove di pesisir Sanur"

h) "Proyek LNG tak sejalan dengan wana kerthi"

i) "Segara kherti ternodai karena terancam pengerukan proyek terminal"

j) "Tolak pengerukan pantai untuk terminal di pesisir Sanur".

Sekitar Pukul 10.20 Wita para peserta aksi mulai berkumpul di titik Start Timur Lapangan Bajra Sandi Renon Denpasar dan berjalan kaki menuju Kantor DPRD Provinsi Bali.


Masa aksi tiba didepan dikantor DPRD Bali dilanjutkan menyampaian orasi yang oleh Korlap dan perwakilan masa aksi yang intinya.


Kegiatan Ini merupakan pergerakan dari Hati Nurani dalam pergerakan ini bentuk kepedulian dalam penolakan LNG di kawasan Mangrove, jangan mau kawasan Suci kita diuruk sehingga membahayakan kita semua.


Perwakilan Masyarakat yang itinya Berkumpul untuk perlawanan terminal LNG, Ini murni Membela pertiwi kami, membela mangrove membela terumbu karang jangan sampai dirusak dengan adanya pembangunan terminal LNG.

Sedangkan Orasi dari Bendesa Adat Intaran I Gusti Alit Kencana yang menyampaikan Penolakan terminal LNG di kawasan pesisir sanur dikawasan Mangrove dikarena terminal LNG yang seharusnya sesuai rencana Pemprov Bali di Bangun di Benoa bukan di Kawasan pesisir Sanur, Terminal LNG Kawasan mangrove akan mengorbankan/merusak terumbu karang ang akan dikeruk 3.300.000 M3, dan 14 hektar hutan mangrove yang akan menjadi korban, Kita baru menanam terumbu karang dan disaat ini mau dirusak, kita tidak melawan pemerintah kita melawan peruksakan, kita akan mendukung pemerintah jika tidak merusak alam, kita harus fikirkan kehidupan anak cucu kita, ini merupakan awal perlawanan, kita akan datang ke kantor DPRD Prov. Bali untuk memberikan aksi perlawanan mari kita lawan sampai menang.


Sekitar jam 10.40 Wita perwakilan masa aksi diterima oleh Ketua Komisi 1 dan Ketua Komisi 3 DPRD Bali di Wantilan Kantor DPRD Bali untuk menyampaikan


1) Penyampaian oleh Bendesa Adat Intaran I Gusti Alit Kencana.


a) Kami datang di Kantor DPRD Bali hanya ingin menyampaikan aspirasi kami kepada anggota dewan DPRD Bali, kami disini tidak menolak LNG kami hanya menolak lokasi terminalnya. Dimana lokasi yangbakan dijadikan terminal LNG akan merusak lingkungan yang rencananya akan mengeruk laut dan membabat hutan mangrove dikasawasan tersebut. Disinilah kami keberatan dan menolak serta ingin melindungi lingkungan kami agar tidak rusak.


b) Kenapa lokasi pembangunan harus dikawan pantai sanur dan kenapa tidak ditempatkan di Pelabuhan Benoa, kita semua sudah tahu kehidupan masyarakat Desa Sanur hidup di industri pariwisata, dengan rencana adanya pembangunan terminal LNG dilokasi kawasan Mangrove yang pastinya akan merusak dan menebang kawasan mangrove tersebut.


c) Perda Gubenur Bali sesuai renacana awal lokasi terminal LNG yang awalnya ditempatkan dilokasi Pelabuhan Benoa, disini kami inginkan Perda Gubenur Bali yang awal tetap dilaksanakan dan batalkan revisi tersebut, kami disini tidak menolak pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah.


Semua tuntutan para warga yang langsung d tanggapi oleh Ketua Komisi 1 DPRD Bali yang 


"Saya diperintahkan oleh Ketua DPRD Bali untuk menerima peserta masa aksi, saya sangat mengapresiasi peserta aksi yang melaksanakan aksi dengan tertib.


Persolan ini akan diajukannya Raperda Tata Ruang Penggabungan Tata Ruang Daratan dan Lautan sesuai dengan kewenangan Pemprov Bali sevelum diajukan kita harus dapat memahami apa yang mesti diintregasikan sesuai dengan aturan kajian Perpu sudah selesai tinggal intregasikan 


Diakaitkan dengan LNG ini sesuai dengan RTW 2009 dalam lokasi tersebut tergambarkan inflatruktur saluran pipa gas untuk mengintregasikan dengan adanya saluran gas tersebut terdapat pemikiran apabila tidak ada terminalnya akan sia sia.


Mangrove merupakan pelindung pulau Bali ini dan tidak serta merta harus dibabat apabila sangat diperlukan pemanfaatan lahan mangrove tersebut tentunya adanya solusi yang tidak merusak lingkungan.


Saya pribadi dengan adanya rencana Terminal LNG tersebut di kawasan pantai Sanur saya tidak setuju dimana kawasan tersebut merupakan penghidupan masyarakat Sanur.


Komisi 3 DPRD Bali sudah berkerja untuk tetap melakukan kajian dalam persolan tersebut dalam setiap rapat selalu memberikan masukan yang positife untuk kepentingan masyarakat dikawasan rencana pembangunan Terminal LNG dikawasan Pantai Sanur.


Persolannya disini sesuai dengan intruksi dan Perda Tata Ruang Pemprov Bali Tahun 2009 sudah final dan tidak dapat dikotak katik lagi terkait dengan kawasan mangrove diwilayah Bali.


Hal serupa juga d sampaikan oleh I Wayan Suwardana alias Gendo Ketua Kekal Bali terkait Riset Mangrove dan Pesisir pada dampak bencana proyek


"Sudah kami lakukan pengecekan pada Perda No16 Tahun 2009 menjelaskan bahwa memang ada saluran pipa gas namun tidak mencantumkan bahwa terminal LNG dikawasan pantai Sanur Sidekarya, dimana terminal LNG masuk dalam Perda RTRW denpasar dialokasikan di kawasan Terminal Pelabuhan Benoa. Dalam hal ini adalah rencana terminal LNG saat ini masuk kajian baru belum masuk dalam kajian Perda Prov Bali, disini saya siap untuk berdebat dan mendiskusikan terkait dengan permasalahan ini.


Sesuai Data yang kami pake saat ini adalah data dari BP3K dan riset Kampus Unud terkait dengan kawasan pesisir dan laut diantaranya langsung saja dulunya kawasan yangbakan dijadikan Terminal LNG pada tahun 1991 kawasan tersebut merupakan kawasan tambak dan kemudian tahun 1992 kawasan tersebut dirubah kawan Tahura dan ditanami Mangrove oleh pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Jepang yang sudah berusia kurang lebih 3p tahun kawasan tersebut mulai padat yang ditumbuhi pohon mangrove yang saat ini menjadi kawasan hutan mangrove dengan padatnya hutan mangrove tersebut ditengha hutan inilah yangbakan dijadikan proyek terminal LNG saat ini, bayangkan penanaman pohon mangrove yang dapat setinggi + 10 Mtr memerlukan waktu 30 tahun apakah gak sayang dengan hal ini adanya proyek ditengah hutan mangrove yang pastinya akan mengurangi kawasan hutan tersebut.


Tapak lokasi laut yang akan dijadikan alur kapal terminal LNG dalam kawasan laut terdapat satwa dan trumbukarang apabila benar proyek ini terjadi akan merusak kawasan laut yang teradapat satwa serta trumbukarang akan rusak seluas 5 Hektar.


Dari rencana umum energi daerah Prov Bali terdapat 2 titik diantaranya di Pelabuhan Celukan Buleleng dan Pelabuhan Benoa dan apabila proyek tersebut terjadi akan terdapat 3 titik, saran kami agar adapat mengembangkan energi yang sudah ada tanpa membangun titik lagi dalam pembaruan energi diwilayah Prov Bali. Dalam hal ini apa yang saya sampaikan ini dapat menjadi pertimbangan oleh Komisi 3 DPRD Bali terkait dengan tuntutan kami menolak Terminal LNG Sidekarya.


Hal serupa di Tanggapan oleh Ketua Komisi 3 DPRD Bali dalam diskusi.

 "kita harus sabar dalam hal ini ijinkan kami untuk bekerja dan saya setuju untuk menjaga lingkungan kawasan pesisir dan laut agar tetap terjaga sampai anak cucu kita, dalam hal ini akan diperlukan solusi terbaik untuk pemabngun terminal tersebut.

Pewarta : Tim Saminto/Amin/Mamat

Share:

No comments:

Post a Comment

LSM TEROPONG

LSM TEROPONG
SEKRETARIAT : 082264680777

PENGUNJUNG

IKLAN / ADV / PROFILE

IKLAN / ADV / PROFILE
Hubungi Redaksi Teropong Timur WA / Telpon / SMS : 082264680777

Popular

Featured post

LSM, ORMAS DAN AWAK MEDIA BENTUK FORUM KOMUNIKASI

LSM DAN ORMAS Serta WARTAWAN YANG HADIR Bondowoso, www.teropongtimur.co.id Puluhan LSM dan Awak Media Bondowoso Jawa Timur mengapresi...

Blog Archive

Recent Posts